Hati Selembut Salju
Lembayung sutra di ufuk mulai bercahya
Hatikupun ingin bertanya
Bila engkau tiba
Jangan hanya berita
Datanglah dengan cinta
Beribu kali bumi mengedari mentari
Betapa abadi bagai cintaku ini
Engkau berjanji
Kau berjanji sampai kini
Aku menanti
Ku menanti kau kembali
Jangan lagi
Kecewakan hati ini
Biar seribu tahun memutih rambutku
Hatiku tetap selembut salju
Burung bangau terbang
Kekandang setahun sekali
Menemui cintanya lagi
Memang kuharapkan
Dan selalu kuimpikan
Kau datang dengan cinta…..
by: Jamal Mirdad
---
Hati Lebur Jadi Debu
Titik titik noda tertinggal didalam dada
Guratan hatiku masih ada
Tergores ingatan, pahit kurasakan
Hari ini hati masih luka
Guratan hatiku masih ada
Tergores ingatan, pahit kurasakan
Hari ini hati masih luka
Telah aku coba melupakan segalanya
Namun titik terang tiada datang
Langit makin gelap, luka makin dalam
Hati ini hancur jadi debu
Namun titik terang tiada datang
Langit makin gelap, luka makin dalam
Hati ini hancur jadi debu
Hanya satu yang kusayangi
Tiada pengganti sampai saat ini
Hari-hari langit kelabu
Menutup hatiku serasa kan mati
Tiada pengganti sampai saat ini
Hari-hari langit kelabu
Menutup hatiku serasa kan mati
Bukit kan kudaki, lautpun kuseberangi
Agar dapat lupakan dirimu
Namun apa daya aku manusia
Gagal menghapus kenangan lama
By: Jamal MirdadAgar dapat lupakan dirimu
Namun apa daya aku manusia
Gagal menghapus kenangan lama
----
syair lagu seperti ini sebetulnya yang cocok untuk menggambarkan jiwaku tahun 80-an sederhana dan ndeso ...
Ya ya ya, aku ingat serial lagu Jamal Mirdad yang waktu itu amat populer. Ada ''Hati Selembut Salju'', ada ''Hati Lebur Jadi Debu'' (mungkin ini keliru, lupa, sih), dan ........ ''Hati-hati di jalan Banyak Polisi Tidur'' hehehehehe.
BalasHapusWah, rasanya kian merasa muda saja. Dua puluh tujuh tahun terusssss pokoknya !!